User login
Poll
Fakta
- Setengah dari kasus HIV-AIDS di Indonesia adalah pada golongan umur kaum muda
Who's online
-I LOVE YOU, I Really Do Love You-

“Live without love is meaningless” – Anonymous
Bulan Februari adalah bulan cinta, well at least, banyak orang yang menganggapnya demikian. Semua orang, radio, TV, majalah dan koran tak henti-hentinya memuat berita-berita dan program-program yang berbau cinta. Nggak hanya itu, feature dan atribut dibuat dengan penuh nuansa cinta, apakah itu dalam warna, hiasan, atau perkataan.
Nggak salah juga sih, kita semua tahu kalau tanggal 14 Februari itu adalah hari Valentine, yang bagi orang-orang barat dipercaya sebagai hari cinta dan kasih sayang. Kini di timur pun, khususnya negeri kita tercinta ini, fenomena valentine sudah mulai merebak dan diyakini sebagai ajang berbagi cinta dan kasih sayang. Apalagi buat temen-temen remaja, yang tentunya menginginkan bentuk ungkapan cinta dari someone specialnya.
Wajar, remaja, menurut Hurlock, yang berada dalam tahap pencarian jati diri, memang memerlukan pemenuhan afeksi—kebutuhan akan kasih sayang--yang besar. Biasanya bentuk afeksi itu didapat dari orang tua (Mom and Dad), kini keinginan untuk melepaskan diri dari bayangan orang tua membuat remaja mendapatkan afeksi dari orang-orang sekitar, teman dekat.
Ungkapan tersebut biasanya identik dengan coklat, bunga, romantic dinner, atau special gift yang gak pernah disangka oleh pasangannya. Atau bahkan ajang nembak buat nyatain rasa suka, cinta dan sayang kita sama kecengan. Cuman yang sangat disayangkan, kalau ajang berbagi cinta dan kasih sayang ini diselewengkan buat hal yang nggak penting. Banyak sekali kasus yang terjadi pada remaja di hari valentine, misalnya first kiss, kehilangan keperawanan, sampai ujungnya kehamilan yang tidak diinginkan. Lebih parahnya lagi kalau tertular HIV/AIDS atau Infeksi Menular Seksual. Kalau gitu ujungnya, valentine bukan lagi ungkapan rasa cinta dan kasih sayang.
Mitos Valentine
Nggak sedikit orang yang memanfaatkan ajang valentine ini buat hal-hal yang menguntungkan dirinya sendiri. Dan lebih buruknya lagi, hal-hal seperti di atas sudah dianggap menjadi suatu hal yang memang harus ada atau terjadi di hari valentine. “SALAH BESAR” kalau temen-temen remaja berpikir seperti itu.
Ada beberapa mitos yang terjadi di hari cinta ini. Pertama, ada anggapan atas nama cinta, kamu harus memberikan hadiah yang spesial buat menunjukkan seberapa besar cinta dan sayang kamu pada pasanganmu. Gak harus koq, rasa cinta dan kasih sayang gak bisa diukur hanya dengan hadiah special yang gak jelas juntrungannya. Apalagi kalo, pasangan kita minta hadiah yang aneh-aneh, semisal ciuman, Make Love, atau bahkan harta benda yang diluar kemampuan kamu.
Yang lainnya, untuk merayakan valentine, harus diadain di tempat yang romantis, eksklusif dan cowok yang berkewajiban nraktir. Sebenarnya, ungkapan cinta dan sayang itu gak harus disertai dengan sesuatu yang mahal, cukup dengan ucapan dan kesungguhan kamu dalam membina hubungan yang sehat dan bermasa depan. Kalo masalah traktir-mentraktir, kedua pihak punya kewajiban yang sama, yah disesuaikan dengan kemampuan masing-masing, gak usah maksa. Valentine di rumah juga indah apalagi makan bareng dengan keluarga, dijamin romantis deh.
Dan yang paling gak penting lagi, kalau ungkapan cinta dan sayang ini hanya berlaku kalau valentine aja. Nggak banget deh, kita boleh bikin satu hari yang special buat pasangan kita tapi gak usah pas valentine aja. Bisa di hari-hari yang lain, bahkan hari ini, atau bahkan gak perlu hanya sehari lho. Rasa cinta dan kasih sayang ini bisa kita ungkapkan kapan aja dan juga tidak hanya buat pasangan kita aja. Keluarga yang gak kalah mencintai kita juga patut dapet ungkapan cinta dan sayang dari kita.
Valentine vs. Bencana
Love is a wonderful thing, memang bener kalo cinta itu suatu hal yang indah. Tapi janganlah kita sia-siakan keindahan dalam cinta itu untuk hal-hal yang bahkan akan membuat masa depan kita nggak seindah yang kita impikan. Beruntung sekali kita masih bisa merasakan malam spesial dari orang tua dan pasangan kita. Tapi apakah cinta akan terasa indah bagi mereka yang tertimpa bencana tsunami di Aceh dan Sumut, gempa di Jogja, atau banjir di Jakarta, Jatim dan longsor di berbagai daerah di negeri kita ini.
Sepertinya mereka nggak sempet mikirin sejauh itu, yang sempet saudara-saudara kita pikirin adalah bagaimana mereka bisa tetap hidup dalam berbagai keterbatasan. Tapi hidup tanpa cinta tidaklah berarti, sekuat-kuatnya usaha mereka untuk tetap bertahan hidup dalam situasi yang kacau balau tidak akan membuat mereka menikmati hidup. Satu-satunya obat untuk mengembalikan kebahagiaan dan kepercayaan diri mereka adalah dengan dukungan cinta dan kasih sayang.
Lalu, siapa yang memberikan dukungan tersebut, sedangkan banyak mereka yang kehilangan keluarga, pasangan dan relasi. Pastinya kita-kita ini, tidak ada salahnya kalo valentine kali ini kita berikan kepada saudara-saudara kita yang memerlukan kehangatan cinta dan kasih sayang. Bentuknya bisa apa saja, dari kepedulian kita dengan menyumbangkan harta benda atau mengadakan kegiatan sebagai ungkapan cinta bagi mereka. Kalaupun mampu, nggak ada salahnya kita mengungkapkannya langsung bersama para korban bencana dengan berbagai bentuk kegiatan. Salam Cinta buat saudara kita di seantero negeri ini!
By:T’Hanks
has been edited from its original



