User login
Poll
hehe?
dfhdfh
50%
dfhdfh
0%
dfhdfh
50%
Total votes: 2
Fakta
- Setengah dari kasus HIV-AIDS di Indonesia adalah pada golongan umur kaum muda
Who's online
There are currently 0 users and 1 guest online.
TABU apa BUTA?
Submitted by tongs_hanks on Tue, 01/22/2008 - 21:40.

TABU apa BUTA?
Penis, Vagina, Seks, Masturbasi, Mimpi Basah….., hmmm, hari gini ngomongin kayak gituan? Apa nggak bakalan batal puasanya? Kan jorok-jorok tuh! Eiiiit, tunggu dulu, yang diomongin ‘kan nggak yang jorok-joroknya, semua itu informasi yang jelas dan sangat diperlukan temen-temen.
Kalo ngomongin masalah kesehatan reproduksi (kespro) itu nggak akan ada habis-habisnya. Satu sisi dorongan remaja untuk selalu bereksplorasi akan hal-hal yang baru tidak bisa dibendung. Di sisi lain, informasi yang jelas buat meluruskan perilaku yang nggak-nggak masih terasa sukar didapat. Makanya, sampai sekarang banyak sekali perilaku-perilaku semacam masturbasi, hubungan seksual di luar nikah dan kehamilan yang tidak diinginkan sampai ke masalah aborsi di kalangan remaja.
Disitulah fungsinya pendidikan dan informasi kespro diperlukan. Sederhana aja, informasi itu diberikan biar temen-temen remaja nggak salah tafsir dan tahu dampak-dampak dari aktivitas seksual. Kalo dapet informasi yang bener kan bisa mulai pikir-pikir apa perilaku gue itu bener apa salah. Ya ujung-ujungnya seh, biar remaja lebih bertanggung jawab, menghargai dan memelihara tubuhnya tetap sehat.
Remaja dan Remaja
Pada umumnya seh, anak dan remaja itu dalam masa transisi merasa enggan buat mencari penjelasan sama orang tua tentang permasalahan yang terjadi pada dirinya yang secara nyata dihadapi. Alhasil, teman sebaya sebagai gantinya.
Pertemanan bagi remaja adalah hal yang sangat dihargai, jalinan komunikasi cenderung lebih terbuka dan baik daripada dengan orang tua. Memang, dengan temen tuh cenderung bisa nyimpen rahasia, lebih terbuka “ngerumpiin n ngegosipin” kecengan masing-masing. Masalah dirasa bisa dipecahkan bersama-sama, terutama masalah dengan ortu dan keluarga.
Di waktu-waktu istirahat sekolah, nongkrong atau belajar bersama, mereka bakal mencari tahu dari temen-temen deketnya tentang masalah kespro khususnya. Sayangnya, karena sama-sama belum tahu secara benar, akibatnya informasi yang diterima banyak disalah artikan, malah dengan sengaja diselewengkan.
Perlunya temen-temen mendapat informasi yang benar ini sangat penting untuk bisa menjawab pertanyaan temen-temen sendiri tentang kespro. Bila penjelasan diperoleh dengan benar dan tepat, pastinya hal tersebut bisa membantu perkembangan temen-temen di masa mendatang.
Remaja dan Ortu
Remaja dan Ortu
Kekurang tahuan orang tua terhadap pengetahuan yang jelas dan benar serta memadai tentang aspek-aspek perkembangan putra-putrinya menjadi permasalahan bagi remaja untuk memperoleh penjelasan yang tepat. Pada kenyataannya, orang tua masih merasa risih atau segan bahkan tidak mengerti cara yang tepat untuk berdiskusi tentang perkembangan biologis, psikologis serta permasalahan kespro dengan putra-putrinya.
Pembicaraan tentang kespro masih dianggap sebagai suatu hal yang tabu, apalagi dibicarakan dengan remaja. Orang tua merasa khawatir akan memicu putra-putrinya untuk melakukan hal-hal yang dianggap tabu tersebut. Padahal, keinginan untuk tahu dan mencoba sesuatu yang baru itu akan selalu ada pada karakter remaja. Pada saat itulah fungsi orang tua membimbing putra-putrinya agar tidak salah arah. Tentunya dengan cara memberikan penjelasan yang benar dan jelas kepada mereka.
Memang kompleks sekali permasalahan ini, orang tua mengalami hambatan dalam menjelaskan permasalahan kespro karena menganggap tabu. Sang Anak juga kurang dapat menghargai pengetahuan yang disampaikan oleh orang tuanya, berbeda kalau yang menyampaikan itu guru, dokter atau ulama-ulama. Anggapan tabu ini mengakibatkan kepercayaan diri orang tua kecil dalam memberikan penjelasan. Akibatnya juga, proses untuk memberikan kepercayaan diri dan bekal pengetahuan bagi putra-putrinya pun membutuhkan waktu yang lama. Pada akhirnya, semuanya dianggap sudah terlambat.
Remaja akan lebih mudah memahami dan mengerti tentang perubahan yang terjadi dalam dirinya itu bila penjelasan dan pengarahan tersebut diberikan dalam suasana yang dipenuhi keterbukaan dan keharmonisan. Hal tersebut tidak hanya harus diberikan oleh teman sebaya, guru, dokter atau ulama; orang tua juga memiliki peran yang sangat besar karena waktu luang yang paling banyak bagi remaja ada dalam keluarga.
Dan yang paling penting adalah memberikan penghargaan sebagai pribadi yang utuh, yang mampu bertanggung jawab atas diri sendiri. Jangan sampai keyakinan bahwa mendidik kespro itu tabu mengakibatkan remaja buta akan informasi yang benar dan jelas yang menyangkut masa depannya.
By T'Hanks, published in GaPE Newsletter MCR-PKBI, November 2004



