User login
Poll
Fakta
- Setengah dari kasus HIV-AIDS di Indonesia adalah pada golongan umur kaum muda
Who's online
hak
|
Aug 15, '07 6:51 AM
BANDUNG—Puluhan remaja dari 14 provinsi di Indonesia menyerukan kesadaran atas hak mereka, khususnya hak kesehatan reproduksi. “Kami tidak mau diperlakukan sebagai objek,” ujar Andolini Ariatni Abram dari Indonesian Youth Partnership (IYP) dalam jumpa persnya di Bandung Sabtu (11/8).
Seruan ini, ujar Andolini digemakan untuk memperingati Hari Remaja Internasional yang jatuh setiap tanggal 12 Agustus. “Jika kami dibiarkan menjadi objek, kami tidak pernah punya masa depan,” katanya.
Puluhan remaja dari 14 provinsi ini tergabung dalam Indonesian Youth Partnership. Organisasi ini merupakan sebuah jaringan remaja nasional yang bergerak untuk memperjuangkan hak kesehatan reproduksi di kalangan remaja. Mereka antara lain berasal dari Naggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, DKI Jakarta, Jawa Barat, Bali, dan Sulawesi Utara.
Menurut Yaser Arafat, remaja dari Bengkulu, mereka berkumpul di Bandung sejak Senin (6/8) lalu. Mereka menggelar pelatihan untuk memperkuat kesadaran atas hak mereka. “Kami sekarang lebih mengerti tentang HIV/AIDS, gender, dan cara mengadvokasi remaja terkait hal ini,” katanya.
Organisasi ini mencatat ada 12 hak yang harus dipahami oleh remaja Indonesia. Dua belas hak itu antara lain hak untuk hidup, bebas dan aman, persamaan, dan memiliki privacy. Selain itu, remaja juga berhak mendapatkan pelayanan kesehatan, informasi dan pendidikan, serta bebas berpartisipasi dalam dunia politik.
Selain melakukan penguatan atas kesadaran ini, kata Yaser, pihaknya juga akan bergabung dengan remaja lainnya dalam aksi memperingati hari Remaja Internasional di Kota Bandung besok (Minggu, 12/8).
Organisasi ini merilis data dari Departemen Kesehatan terkait kasus AIDS di tanah air. Dari data itu dilaporkan, kasus AIDS tertinggi menjangkiti kelompok umur 20-2 tahun (47,78 persen), disusul kelompok umur 30-39 tahun (32,1 persen). “Remaja menjadi sorotan sebagai objek penderita,” katanya.
Data dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Jawa Barat juga menunjukkan kelompok umur 20-29 tahun menempati peringkat tertinggi dari total 2.789 penderita HIV/AIDS sampai Juni 2007. “Ini terjadi karena kesadaran remaja masih rendah,” ujar Reza Ruhyana, aktivis IYP lainnya.
Seusai pertemuan ini, kata Reza, setiap perwakilan akan kembali ke provinsi masing-masing untuk melakukan sosialisasi kesadaran atas hak mereka. “Kami akan melakukan upaya membangun kesadaran ini di lingkungan masing-masing,” ujarnya.
|
Laporan: Hari Setiyowanto
[''Forum Gemari TVRI'' Kamis, 19.00-21.00 WIB]
Diperkirakan
sekitar 30,33 persen dari total penduduk Indonesia merupakan usia
remaja. Sementara itu, belum terdapat persentase sedikitpun yang secara
tegas menunjukkan keterlibatan aktif remaja dalam membangun komitmen
pembangunan, terutama berkaitan dengan komitmen atas hak mendapatkan
informasi, pendidikan dan pelayanan kesehatan reproduksi remaja.
“Remaja masih menjadi wilayah target penerima manfaat setiap program
yang ada tanpa membangun media kritis menggali dan mengelola potensi
remaja yang berkelanjutan,” kata kata Heni Mulyati, IYP (Indonesian
Youth Partnership) Perwakilan Jakarta yang didampingi Harry Kurniawan
dari IYP Jawa Barat, ketika siaran D.Radio 103.4 FM Jakarta, beberapa
waktu lalu.
Terkait hal tersebut, (IYP) sebagai salah satu organisasi advokasi
remaja yang memperjuangkan hak-hak reproduksi remaja di Indonesia
memiliki visi ingin membangun keterlibatan remaja dalam segala aspek
terkait dengan kebijakan kesehatan reproduksi.
“Perlu membangun kesadaran pentingnya remaja terlibat secara aktif
dalam membangun tatanan pembangunan bangsa Indonesia yang memberikan
akses informasi, pendidikan dan pelayanan bersahabat merupakan dasar
yang paling kokoh terbentuknya gerakan kemitraan ini,” alasan Heni
bermitra dengan D.Radio sebagai media partner.
Dalam mensosialisasikan program kepeduliannya ini, IYP menjalin
kerjasama dengan Jhonson and Johnson perwakilan Jakarta mengadakan satu
bentuk kegiatan advokasi remaja melalui siaran radio. Radio yang
terpilih menjadi mitra media pada kegiatan ini adalah D. Radio 103.4 FM
Jakarta. “Kami memilih D. Radio sebagai mitra media pada kegiatan ini
karena kami tahu radio memiliki komitmen dan sangat konsen terhadap
remaja, khususnya di wilayah DKI Jakarta,” kata Heni Mulyati.
Hadir menyaksikan pada kesempatan ini, Elsa Handayani, Profesional
Marketing Manager Jhonson and Jhonson perwakilan Indonesia, dan Jhonson
and Jhonson dari Amerika (Pusat). Dengan mengambil tema “Youth Speak
Up! Pentingnya Peer Education dalam Memerangi Penularan HIV dan AIDS di
Kalangan Remaja”.
Pada sesi siarannya yang dipandu Uya Atmaja dan Heni Mulyati sebagai
narasumbernya, berbagai upaya dan seputar potret remaja itu sendiri
dalam memahami persoalan reproduksi sehatnya baik di wilayah kota-kota
besar maupun kota-kota lainnya yang selama ini menjadi obyek advokasi
dari IYP tersebut.
Menurut Heni hingga saat ini IYP sudah berada di 12 provinsi, antara
lain Sumatera Utara, Bengkulu, Sumatera Barat, Lampung, DKI Jakarta,
Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Kalimantan
Timur dan Sulawesi Utara.
“Remaja sebagai aset penting dan memiliki posisi strategis bagi setiap
bangsa harus memperoleh perhatian utama pada setiap kebijakan
pembangunan, demikian halnya untuk Indonesia. Mereka, para remaja ini
berhak atas hak mendapatkan informasi, pendidikan dan pelayanan
kesehatan reproduksinya,” tandas Heni.
Edisi Cetak - Senin, 13 Agustus 2007
BANDUNG, (PR).-
Ratusan remaja di Kota Bandung menggelar aksi simpatik dalam memperingati Hari Remaja
Internasional atau International Youth Day (IYD), Minggu (12/8). Dalam aksinya yang
digelar di kawasan Dago dan berakhir di BIP Jln. Merdeka Bandung itu, mereka menyerukan
agar masyarakat dan pemerintah mendengar hak dan partisipasi remaja dalam pembangunan.
Hak remaja yang mereka kampanyekan terutama adalah hak-hak kesehatan reproduksi. Menurut Humas dan Bidang Advokasi dari Indonesian Youth Partnership (IYP), Ari Yudha Laksmana, selama ini remaja kerap tidak sadar akibat yang bisa ditimbulkan dari perilaku seks bebas. “Oleh karena itu, kami adakan penyuluhan-penyuluhan tentang perilaku seksual yang sering dilakukan remaja beserta risiko-risikonya,” ujarnya.
Hak-hak lain yang mereka perjuangkan antara lain hak untuk bebas dan aman, hak memiliki privasi, hak berpikir dan bertindak bebas, hak mendapatkan informasi dan pendidikan, hak untuk menikah dengan seseorang yang dicintai, hak untuk memutuskan kapan atau apakah akan memiliki anak, hak mendapat informasi, hak mendapat pelayanan kesehatan, hak bebas berpartisipasi dalam dunia politik, dan hak bebas dari penyiksaan dan perlakuan buruk.
Isu lain yang diangkat dalam aksi tersebut adalah penyebaran HIV/AIDS yang banyak menyerang usia remaja akibat penggunaan jarum suntik narkoba dan perilaku seks bebas. Dalam siaran pers IYP, kasus AIDS di Indonesia tertinggi menimpa kelompok umur 20-29 tahun yaitu sebesar 47,78%.
Sedangkan berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Bandung, sebanyak 73% penderita AIDS di Kota Bandung adalah remaja berusia 15-29 tahun. Sebanyak 21,3% di antaranya masih berstatus pelajar dan mahasiswa.
Penyebaran HIV/AIDS di Kota Kembang terhitung cepat. Pada periode Maret-April 2007 saja, penderita HIV bertambah 22 orang dan penderita AIDS 26 orang. Pada Februari, jumlah penderita HIV ada 605 orang dan 475 AIDS. Pada April jumlahnya bertambah menjadi 627 HIV dan 501 AIDS. (A-156)***
http://www.pikiran-rakyat.co.id/cetak/2007/082007/13/0204.htm
picture: courtesy of Mitra Citra Remaja PKBI Jawa Barat



