User login

Poll

hehe?
dfhdfh
50%
dfhdfh
0%
dfhdfh
50%
Total votes: 2

Fakta

  • Setengah dari kasus HIV-AIDS di Indonesia adalah pada golongan umur kaum muda

Newsletter

Stay informed on our latest news!

Partner

  • bkkbn
  • gyan
  • gyca
  • JnJ

Who's online

There are currently 0 users and 1 guest online.

hiv-aids

Submitted by kangadmin on Mon, 03/10/2008 - 01:23.

08 Desember 2005 17:58:04

Dalam rangka memperingati Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember minggu yang lalu, Komunitas peduli NAPZA dan HIV AIDS (Kopenza) ITS mengadakan serangkaian acara untuk memperingatinya. Salah satunya adalah talk show tentang HIV AIDS yang berlangsung di Kantin Pusat ITS pada Kamis (8/12) siang pukul 12.30 WIB. Talk show yang diberi judul Meneropong Fenomena HIV AIDS Hari Ini dan Esok, menghadirkan empat orang pembicara yang sangat menarik untuk disimak.

Kantin Pusat ITS, ITS Online - Talk show ini merupakan rangkaian acara yang diadakan oleh Kopenza untuk memperingati Hari AIDS. Setelah sebelumnya pada tanggal 1 Desember 2005, Kopenza mengadakan acara pembagian pita berwarna merah yang ditempel di dada sebelah kiri kepada pengunjung Kantin Pusat ITS. Hal tersebut dilakukan untuk menunjukkan kepedulian kepada para penderita HIV AIDS.

Acara talk show diawali dengan kemunculan MC sekaligus moderator kocak yang saat itu tampil funky dengan rambut highlight berwarna coklat muda, Suud. Pertama dia menjelaskan tentang Kopenza yang masih termasuk komunitas baru di ITS. Kopenza merupakan suatu lembaga di ITS yang memusatkan kepedulian pada HIV AIDS dan NAPZA. Lembaga yang beranggotakan mahasiswa ITS dari berbagai jurusan ini baru dibentuk sekitar bulan April-Mei. Oleh karena itu, komunitas yang berencana dijadikan UK ini masih belum mempunyai ruangan sendiri untuk kegiatannya sehingga mereka masih menjadi satu dengan UK Pramuka.

Acara dilanjutkan dengan penampilan teatrikal dari Kopenza, menampilkan seorang laki-laki yang bertelanjang dada menampakkan mimik muka yang sedih dan penuh rasa penyesalan. Dia merasakan penderitaan yang sangat hebat dan akhirnya dia pun roboh. Penampilan tersebut diiringi dengan pembacaan puisi, menyatakan penderitaan laki-laki yang berperan sebagai penderita AIDS itu. Penampilan teatrikal tersebut menggambarkan betapa menderitanya seorang penderita HIV AIDS, yang menyesal setelah mengidap penyakit tersebut.

Usai Sambutan ketua panitia, Diikuti dengan acara games yang membagikan hadiah berupa kaos. Kaos tersebut sama seperti yang dipakai oleh sekitar 1500 simpatisan HIV AIDS saat melakukan long march dari Taman Bungkul saat memperingati Hari AIDS 1 Desember minggu yang lalu. Ada dua orang peserta pria yang maju untuk mengikuti games, yaitu Frans (Teknik Geodesi �04) dan Tejo.

Oleh Suud, mereka berdua disuruh untuk berteriak �yes� sambil mengepalkan tangan ke atas dilanjutkan dengan mengucapkan �Kopenza OK OK� sambil menggoyangkan pinggul dan tangan masih terkepal di atas. Dua orang tersebut melakukannya tanpa malu-malu dan membuat semua yang hadir di kantin pusat tertawa. Pemenang dari games ini adalah Tejo yang ditentukan dengan tepuk tangan dari penonton. Menang maupun kalah keduanya tetap mendapat hadiah berupa kaos.

Masuk pada acara inti yaitu acara Talk Show tentang Meneropong Fenomena HIV AIDS Hari Ini dan Esok. Menghadirkan empat orang pembicara, yaitu dr Ary, konsultan HIV AIDS, Dwi Etika Sari, Putri Kesehatan Reproduksi (Kespro) Nasional 2004, Mustiko Aji Kabid Kemahasiswaan ITS yang peduli terhadap pergerakan anti NAPZA dan Ir Imam Prajogo, Pembantu Dekan III FTSP ITS selaku perwakilan dari pembantu raktor III ITS.

Dimulai dengan penjelasan dari dr Ary tentang fenomena HIV AIDS yang berkembang sangat cepat pada saat ini. Dokter yang baru menikah dua bulan yang lalu ini mengumpamakan HIV AIDS sebagai fenomena gunung es. HIV AIDS pada awalnya tidak menampakkan gejala, tetapi setelah meninggal baru diketahui bahwa orang tersebut menderita HIV AIDS.

Tentang AIDS di Jawa Timur, grafik penderita HIV AIDS semakin meningkat. Pada tahun ini berjumlah 715 penderita. Jumlah tersebut terbesar ketiga dalam lingkup nasional setelah Papua dan DKI Jakarta. Oleh karena itu dr Ary berpesan, �Daripada telat dan menyesal belakangan lebih baik mencegah di depan.�

Sementara itu, Dwi Etika, Putri Kespro '04 yang merupakan anggota dari Indonesian Youth Partnership (IYP) memaparkan bahwa dirinya sedang berjuang agar pemerintah memberikan akses informasi yang baik tentang HIV AIDS kepada para remaja dan memasukkan pendidikan seksual dalam kurikulum sekolah. Pada bulan Mei lalu, IYP telah berangkat ke DPR untuk mengajukan UU tersebut dan sekarang masih diamandemen.

Mustiko Aji menyatakan dukungan terhadap terbentuknya Kopenza ini karena sejak semula pihak rektorat mengharapkan ada UK yang menangani masalah kepedulian terhadap HIV AIDS. Beliau mengharapkan agar Kopenza tidak hanya melakukan talk show dan menyebar pamfllet tetapi juga harus menumbuhkan kesadaran pada tiap individu untuk memperbaiki diri sendiri. Beliau juga berpesan agar mahasiswa ITS selain pintar juga harus sehat jasmani dan rohani. Ucapan Mustiko Aji ini senada dengan Imam Prajogo.

Sebelum sesi tanya jawab diadakan games lagi tapi khusus diikuti oleh peserta wanita, hadiah yang disediakan sama dengan hadiah bagi peserta pria yaitu berupa kaos. Setelah games, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Penonton yang hadir di kantin pusat pada awalnya malu-malu untuk bertanya, tetapi saat acara hampir selesai penonton berebut untuk bertanya. Setiap penanya mendapatkan sebuah poster kampanye HIV AIDS. Acara talk show berakhir pada pukul 13.00 WIB setelah semua pertanyaan dijawab oleh pembicara. (m7/tov)

 

http://www.its.ac.id/berita.php

Submitted by kangadmin on Sat, 03/01/2008 - 15:33.
Suara Pembaruan: 15.000 Pengidap HIV/AIDS di Indonesia PDF Print E-mail
[JAKARTA] Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2006, jumlah ibu hamil di Indonesia yang terinfeksi virus HIV positif sebesar 0,6 persen dari 15.000 pengidap HIV/AIDS yang tercatat. Hal ini membuktikan bahwa program Prevention Mother and Child Transmition (PMCT) yang bertujuan mengurangi tingkat pengidap HIV pada ibu hamil di Indonesia belum berhasil.

Hal itu dikatakan Prof Dr Zubaeri Djoerban, salah satu peserta International Conference on AIDS in Asia and the Pasific (ICAAP) di Kolombo, Sri Lanka, pada 19-23 Agustus 2007, saat jumpa pers di Jakarta, Kamis (30/8). Ia hadir bersama Danny I Yatim, Humas Indonesia HIV/AIDS Prevantion and Care Project (IHPCP), Rika Putranti dari Yayasan PITA, serta Ari Yuda Laksamana dari Indonesia Youth Partnership.

Zubaeri mengungkapkan, kenaikkan jumlah pengidap baru HIV/AIDS di Asia pada 2006 sebanyak 310 hingga 610 orang. Ini membuktikan bahwa PMCT belum banyak diterapkan oleh negara-negara di dunia, termasuk Indonesia. Padahal di Thailand program ini terbukti dapat menurunkan jumlah ibu hamil yang ter- infeksi HIV.

Isi program PMCT, antara lain menghadirkan kader-kader di RT dan RW untuk menyerukan kepada para ibu yang terinfeksi HIV agar tidak dioperasi Caesar saat persalinan. Kader tersebut juga mengingatkan dan memotivasi para ibu agar setelah melahirkan jangan menyusui bayinya, dan yang paling utama adalah menyediakan susu gratis untuk bayi-bayi itu.

Zubaeri yang akan menjadi ketua panitia ICAAP ke-9 di Bali pada 2009 mengatakan, prevalensi pengidap HIV pada ibu hamil di Thailand dari tahun ke tahun menurun drastis. Walaupun jumlah pengidap HIV di Indonesia masih di bawah Thailand, tingkat penurunannya jauh lebih lambat dibanding Thailand. Tercatat penurunan jumlah wanita hamil yang terinfeksi HIV di Thailand sebesar 80 persen pada usia 20-24 tahun.

Konferensi ICAAP ke-8 di Kolombo pada pertengahan Agustus lalu bertemakan Waves of Change, Waves of Hope, dihadiri lebih dari 3.500 peserta dari 60 negara di kawasan Asia dan Pasifik.
Konferensi membahas isu-isu diskriminasi, pentingnya menyakinkan para pemimpin politik untuk menepati janji-janji, serta memperluas layanan kesehatan bagi mereka yang terinfeksi HIV. [MDM/S-26

 

http://www.aidsindonesia.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id...

Submitted by kangadmin on Sat, 03/01/2008 - 15:20.
RI youths want to help fight AIDS

National News - August 31, 2007

The Jakarta Post, Jakarta

Indonesia's youth want decision makers to involve them more in efforts to fight AIDS because half of today's new HIV/AIDS cases involved adolescents.

Their call for involvement made up recommendations delivered last week at the 8th International Conference on AIDS in Asia and the Pacific (ICAAP) in Colombo, Sri Lanka.

"We haven't earned enough trust from the adults yet," Youth Focal Point's spokesman said.

Ari Yuda Laksmana also told reporters Thursday countries across the Asia Pacific regularly discussed "youth issues" without consulting the younger generation, let alone those involved with Youth Focal Point.

"They treat us as objects -- we only get to talk at our own forums," Ari said.

Youths should be empowered to combat AIDS and given access to information, services, support and resources, Ari said.

"We should be recognized as key stakeholders in the fight against HIV/AIDS, given the opportunity to make policies and decisions affecting our lives and given the chance to express themselves and be heard."

He said the Colombo ICAAP meeting was the second to provide a youth forum.

The first was the ICAAP conference in Melbourne, Australia in 2001.

"In Colombo there were only around 40 Asian youths ... we hope the next youth forum will be attended by at least 200 adolescents," Ari said.

Indonesia is scheduled to host the 9th ICAAP, which would be held in Bali in 2009.

Secretary of the National AIDS Commission, Nafsiah Mboi, said they were still searching for the right format to involve youths in the commission's decision-making processes.

"We are willing to involve them, but we don't know how," Nafsiah told The Jakarta Post Thursday.

She said there was no organization in Indonesia that could represent young people in the battle against AIDS.

The commission had invited some young people to several discussions held by the commission, but Nafsiah said they had provided little relative input.

"The youth should not just complain ... they should think of an organized way to handle this problem," she said.

"We are always open to suggestion.

"They can come to the commission to talk about this any time."

Indonesian AIDS Society chairman Zubairi Djurban is set to chair the steering committee for the 9th ICAAP in Indonesia in 2009.

He said he was optimistic the conference in Indonesia would be better than the one in Colombo, because the committee had full support from the government.

AIDS has been the major health problem in Asia since the late 1980s.

According to UNAIDS, there were in 2006 between 2.8 million and 9.8 million people in Asia suffering from AIDS -- with up to 610,000 of them dying that year. (05)

 

http://old.thejakartapost.com/yesterdaydetail.asp?fileid=20070831.H03