User login
Poll
Fakta
- Setengah dari kasus HIV-AIDS di Indonesia adalah pada golongan umur kaum muda
Who's online
hiv-aids
08 Desember 2005 17:58:04
Kantin Pusat ITS, ITS Online
- Talk show ini merupakan rangkaian acara yang diadakan oleh Kopenza
untuk memperingati Hari AIDS. Setelah sebelumnya pada tanggal 1
Desember 2005, Kopenza mengadakan acara pembagian pita berwarna merah
yang ditempel di dada sebelah kiri kepada pengunjung Kantin Pusat ITS.
Hal tersebut dilakukan untuk menunjukkan kepedulian kepada para
penderita HIV AIDS.
Acara talk show diawali dengan kemunculan MC sekaligus moderator kocak yang saat itu tampil funky dengan rambut highlight
berwarna coklat muda, Suud. Pertama dia menjelaskan tentang Kopenza
yang masih termasuk komunitas baru di ITS. Kopenza merupakan suatu
lembaga di ITS yang memusatkan kepedulian pada HIV AIDS dan NAPZA.
Lembaga yang beranggotakan mahasiswa ITS dari berbagai jurusan ini baru
dibentuk sekitar bulan April-Mei. Oleh karena itu, komunitas yang
berencana dijadikan UK ini masih belum mempunyai ruangan sendiri untuk
kegiatannya sehingga mereka masih menjadi satu dengan UK Pramuka.
Acara dilanjutkan dengan penampilan teatrikal dari Kopenza, menampilkan
seorang laki-laki yang bertelanjang dada menampakkan mimik muka yang
sedih dan penuh rasa penyesalan. Dia merasakan penderitaan yang sangat
hebat dan akhirnya dia pun roboh. Penampilan tersebut diiringi dengan
pembacaan puisi, menyatakan penderitaan laki-laki yang berperan sebagai
penderita AIDS itu. Penampilan teatrikal tersebut menggambarkan betapa
menderitanya seorang penderita HIV AIDS, yang menyesal setelah mengidap
penyakit tersebut.
Usai Sambutan ketua panitia, Diikuti dengan acara games yang membagikan
hadiah berupa kaos. Kaos tersebut sama seperti yang dipakai oleh
sekitar 1500 simpatisan HIV AIDS saat melakukan long march dari Taman
Bungkul saat memperingati Hari AIDS 1 Desember minggu yang lalu. Ada
dua orang peserta pria yang maju untuk mengikuti games, yaitu Frans
(Teknik Geodesi �04) dan Tejo.
Oleh Suud, mereka berdua disuruh untuk berteriak �yes� sambil
mengepalkan tangan ke atas dilanjutkan dengan mengucapkan �Kopenza OK
OK� sambil menggoyangkan pinggul dan tangan masih terkepal di atas. Dua
orang tersebut melakukannya tanpa malu-malu dan membuat semua yang
hadir di kantin pusat tertawa. Pemenang dari games ini adalah Tejo yang
ditentukan dengan tepuk tangan dari penonton. Menang maupun kalah
keduanya tetap mendapat hadiah berupa kaos.
Masuk pada acara inti yaitu acara Talk Show tentang Meneropong Fenomena
HIV AIDS Hari Ini dan Esok. Menghadirkan empat orang pembicara, yaitu
dr Ary, konsultan HIV AIDS, Dwi Etika Sari, Putri Kesehatan Reproduksi
(Kespro) Nasional 2004, Mustiko Aji Kabid Kemahasiswaan ITS yang peduli
terhadap pergerakan anti NAPZA dan Ir Imam Prajogo, Pembantu Dekan III
FTSP ITS selaku perwakilan dari pembantu raktor III ITS.
Dimulai dengan penjelasan dari dr Ary tentang fenomena HIV AIDS yang
berkembang sangat cepat pada saat ini. Dokter yang baru menikah dua
bulan yang lalu ini mengumpamakan HIV AIDS sebagai fenomena gunung es.
HIV AIDS pada awalnya tidak menampakkan gejala, tetapi setelah
meninggal baru diketahui bahwa orang tersebut menderita HIV AIDS.
Tentang AIDS di Jawa Timur, grafik penderita HIV AIDS semakin
meningkat. Pada tahun ini berjumlah 715 penderita. Jumlah tersebut
terbesar ketiga dalam lingkup nasional setelah Papua dan DKI Jakarta.
Oleh karena itu dr Ary berpesan, �Daripada telat dan menyesal
belakangan lebih baik mencegah di depan.�
Sementara itu, Dwi Etika, Putri Kespro '04 yang merupakan anggota dari
Indonesian Youth Partnership (IYP) memaparkan bahwa dirinya sedang
berjuang agar pemerintah memberikan akses informasi yang baik tentang
HIV AIDS kepada para remaja dan memasukkan pendidikan seksual dalam
kurikulum sekolah. Pada bulan Mei lalu, IYP telah berangkat ke DPR
untuk mengajukan UU tersebut dan sekarang masih diamandemen.
Mustiko Aji menyatakan dukungan terhadap terbentuknya Kopenza ini
karena sejak semula pihak rektorat mengharapkan ada UK yang menangani
masalah kepedulian terhadap HIV AIDS. Beliau mengharapkan agar Kopenza
tidak hanya melakukan talk show dan menyebar pamfllet tetapi juga harus
menumbuhkan kesadaran pada tiap individu untuk memperbaiki diri
sendiri. Beliau juga berpesan agar mahasiswa ITS selain pintar juga
harus sehat jasmani dan rohani. Ucapan Mustiko Aji ini senada dengan
Imam Prajogo.
Sebelum sesi tanya jawab diadakan games lagi tapi khusus diikuti oleh
peserta wanita, hadiah yang disediakan sama dengan hadiah bagi peserta
pria yaitu berupa kaos. Setelah games, acara dilanjutkan dengan sesi
tanya jawab. Penonton yang hadir di kantin pusat pada awalnya malu-malu
untuk bertanya, tetapi saat acara hampir selesai penonton berebut untuk
bertanya. Setiap penanya mendapatkan sebuah poster kampanye HIV AIDS.
Acara talk show berakhir pada pukul 13.00 WIB setelah semua pertanyaan
dijawab oleh pembicara. (m7/tov)
| Suara Pembaruan: 15.000 Pengidap HIV/AIDS di Indonesia | |
|
|
Hal itu dikatakan Prof Dr Zubaeri Djoerban, salah satu peserta International Conference on AIDS in Asia and the Pasific (ICAAP) di Kolombo, Sri Lanka, pada 19-23 Agustus 2007, saat jumpa pers di Jakarta, Kamis (30/8). Ia hadir bersama Danny I Yatim, Humas Indonesia HIV/AIDS Prevantion and Care Project (IHPCP), Rika Putranti dari Yayasan PITA, serta Ari Yuda Laksamana dari Indonesia Youth Partnership.
Zubaeri mengungkapkan, kenaikkan jumlah pengidap baru HIV/AIDS di Asia pada 2006 sebanyak 310 hingga 610 orang. Ini membuktikan bahwa PMCT belum banyak diterapkan oleh negara-negara di dunia, termasuk Indonesia. Padahal di Thailand program ini terbukti dapat menurunkan jumlah ibu hamil yang ter- infeksi HIV.
Isi program PMCT, antara lain menghadirkan kader-kader di RT dan RW untuk menyerukan kepada para ibu yang terinfeksi HIV agar tidak dioperasi Caesar saat persalinan. Kader tersebut juga mengingatkan dan memotivasi para ibu agar setelah melahirkan jangan menyusui bayinya, dan yang paling utama adalah menyediakan susu gratis untuk bayi-bayi itu.
Zubaeri yang akan menjadi ketua panitia ICAAP ke-9 di Bali pada 2009 mengatakan, prevalensi pengidap HIV pada ibu hamil di Thailand dari tahun ke tahun menurun drastis. Walaupun jumlah pengidap HIV di Indonesia masih di bawah Thailand, tingkat penurunannya jauh lebih lambat dibanding Thailand. Tercatat penurunan jumlah wanita hamil yang terinfeksi HIV di Thailand sebesar 80 persen pada usia 20-24 tahun.
Konferensi ICAAP ke-8 di Kolombo pada pertengahan Agustus lalu bertemakan Waves of Change, Waves of Hope, dihadiri lebih dari 3.500 peserta dari 60 negara di kawasan Asia dan Pasifik.
Konferensi membahas isu-isu diskriminasi, pentingnya menyakinkan para pemimpin politik untuk menepati janji-janji, serta memperluas layanan kesehatan bagi mereka yang terinfeksi HIV. [MDM/S-26
http://www.aidsindonesia.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id...
National News - August 31, 2007
The Jakarta Post, Jakarta
Indonesia's youth want decision makers to involve them more in efforts to fight AIDS because half of today's new HIV/AIDS cases involved adolescents.
Their call for involvement made up recommendations delivered last week at the 8th International Conference on AIDS in Asia and the Pacific (ICAAP) in Colombo, Sri Lanka.
"We haven't earned enough trust from the adults yet," Youth Focal Point's spokesman said.
Ari Yuda Laksmana also told reporters Thursday countries across the Asia Pacific regularly discussed "youth issues" without consulting the younger generation, let alone those involved with Youth Focal Point.
"They treat us as objects -- we only get to talk at our own forums," Ari said.
Youths should be empowered to combat AIDS and given access to information, services, support and resources, Ari said.
"We should be recognized as key stakeholders in the fight against HIV/AIDS, given the opportunity to make policies and decisions affecting our lives and given the chance to express themselves and be heard."
He said the Colombo ICAAP meeting was the second to provide a youth forum.
The first was the ICAAP conference in Melbourne, Australia in 2001.
"In Colombo there were only around 40 Asian youths ... we hope the next youth forum will be attended by at least 200 adolescents," Ari said.
Indonesia is scheduled to host the 9th ICAAP, which would be held in Bali in 2009.
Secretary of the National AIDS Commission, Nafsiah Mboi, said they were still searching for the right format to involve youths in the commission's decision-making processes.
"We are willing to involve them, but we don't know how," Nafsiah told The Jakarta Post Thursday.
She said there was no organization in Indonesia that could represent young people in the battle against AIDS.
The commission had invited some young people to several discussions held by the commission, but Nafsiah said they had provided little relative input.
"The youth should not just complain ... they should think of an organized way to handle this problem," she said.
"We are always open to suggestion.
"They can come to the commission to talk about this any time."
Indonesian AIDS Society chairman Zubairi Djurban is set to chair the steering committee for the 9th ICAAP in Indonesia in 2009.
He said he was optimistic the conference in Indonesia would be better than the one in Colombo, because the committee had full support from the government.
AIDS has been the major health problem in Asia since the late 1980s.
According to UNAIDS, there were in 2006 between 2.8 million and 9.8 million people in Asia suffering from AIDS -- with up to 610,000 of them dying that year. (05)
http://old.thejakartapost.com/yesterdaydetail.asp?fileid=20070831.H03






